Warisan Yunani Klasik Abad ke-6 SM–1 M

Nasional7 Dilihat


Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA


Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA

Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka – Berikut ini adalah artikel lanjutan dari tulisan sebelumnya. Kiblat baru peradaban Islam seri ke-18 dimuat pada 13 Agustus 2025.

Baca juga : Peradaban Dunia Pra Yunani

Periode Peradaban Yunani Klasik ditandai dengan bangkitnya karakter keilmuan. Ditandai dengan munculnya para pemikir rasional, spekulatif, dan logis. Di antara tokoh terkenal zaman ini ialah Thales, yang banyak berkonsentrasi di bidang geometri dan menjadikan air sebagai prinsip utama. Socrates, yang dikenal sebagai pemikir etika dan metode dialog yang sampai saat ini karya-karyanya masih terus dikutip, lahir juga di zaman ini. Ada juga Pythagoras, yang dikenal sebagai matematikawan dan sekaligus penggagas mistisisme angka-angka. Ilmuwan lainnya ialah Euclid, Archimedes, Hipokrates, Galen yang aktif mengembangkan pengetahuan yang bersifat eksakta.

Baca juga : Belajar Dari Kajian Prof L.W.H Hull (Bagian 3)

Yang tak kalah pentingnya ialah Plato dan rivalnya, Aristoteles. Plato berpendapat, sejatinya dunia ini adalah dunia ide (forms). Realitas dunia nyata ini hanyalah sebuah bayangan. Karena itu, ia dikategorikan sebagai mazhab idealisme. Berbeda dengan Aristoteles yang menganggap realitas dunia ini adalah kongkret. Karena itu, ia kategorikan sebagai mazhab empirisme. Kedua mazhab ini berkelanjutan sampai di abad pertengahan Masehi. Mazhab idealisme Plato didukung oleh pemikir dan filosof Muslim terkenal, Al-Farabi. Sedangkan Mazhab empirisme Aristoteles didukung seorang filosof Muslim yang tak kalah hebatnya, Ibn Sina.

Baca juga : Belajar Dari Kajian Prof L.W.H Hull (Bagian 2)

Periode ini dapat juga disebut sebagai periode transisi antara kekuatan dunia mitos yang mendasarkan pandangan pada asumsi kekuatan mistis kepada periode kekuatan rasional-empiris. Plato berpendapat, pendidikan harus mengarahkan jiwa menuju kebenaran dan keadilan. Dalam konteks modern, ini tercermin dalam pendidikan moral, filsafat, dan karakter. Bukan sekadar keterampilan teknis. Misalnya kurikulum harus diorientasikan untuk mengajarkan critical thinking dan etika, bukan hanya matematika atau sains. Bagi Plato, dunia ini hanyalah bayangan dari dunia ide, yang saat ini mungkin bisa dianalogikan dengan virtual reality (VR) atau metaverse, ketika yang kita lihat hanyalah representasi, bukan realitas sejati. Konsep keilmuan Plato dikembangkan dengan simbol akademia. Sedangkan Aristoteles menggunakan konsep lyceum.
 Selanjutnya 

READ  Pulang Ke Jakarta, Prabowo Diantar Jokowi Sampai Ke Tangga Pesawat


Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News


Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram “Rakyat Merdeka News Update”, caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *