Saat Tradisi Lokal Menjawab Krisis Iklim

Nasional35 Dilihat



RM.id  Rakyat Merdeka – Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Yogyakarta menggelar diseminasi hasil kajian advokasi melalui diskusi publik bertajuk “Ecofeminisme dalam Perspektif Komunitas dan Keimanan: Pengalaman Riset dari Kawasan Karst Pracimantoro”. Acara berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Rabu (26/11/2025), serta disiarkan daring melalui Zoom. Sebanyak 50 peserta hadir, mewakili organisasi pemuda lintas iman, pegiat ecofeminisme, difabel, aktivis lingkungan, serta media.

Masyarakat Karst Pracimantoro—yang hidup di kawasan formasi Gunung Sewu—menyimpan pengetahuan lokal kuat mengenai pengelolaan lahan, pertanian, hingga manajemen air. Sayangnya, pengetahuan ekologis berharga ini masih kurang dikenal publik maupun para pengambil kebijakan.

Diskusi ini menjadi rangkaian implementasi Program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) Eco Bhinneka Muhammadiyah di Yogyakarta. Dengan dukungan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah, tim SMILE Yogyakarta melakukan advokasi, kampanye, hingga pendokumentasian pengetahuan lokal masyarakat sebagai bahan dorongan kebijakan.

Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara. Antara lain Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bidang Perempuan dan Politik Nia Sjarifudin, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni, dan Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan. Dua penanggap turut hadir: Romo Suyadi (tokoh Katolik) dan akademisi ekofeminisme Dewi Candraningrum. Hasil kajian dipresentasikan oleh Yayum Kumai dan Tasya Danela.

Baca juga : MPSI: Saatnya Berdamai, Bukan Menyulut Dendam Sejarah

Yayum Kumai, Focal Point Eco Bhinneka Muhammadiyah Yogyakarta, menjelaskan bahwa kajian ini berfokus pada pengetahuan lokal dari sisi budaya dan sosial.

“Kami ingin mengamplifikasi bagaimana masyarakat Pracimantoro memiliki pengetahuan yang selaras dengan alam. Mereka menjunjung diversitas, mengambil secukupnya dari alam, dan memastikan ada yang dikembalikan,” ujarnya.

READ  Beri Kuliah Tentang Pancasila, Bamsoet Soroti Pergeseran Nilai Demokrasi

Ia menyoroti peran penting perempuan dalam menjaga keberlanjutan pangan melalui konsumsi pangan lokal seperti umbi-umbian dan sumber protein dari serangga.

Menanggapi hasil kajian, Romo Suyadi merujuk kritik Paus Fransiskus dalam Laudato Si terkait konsumerisme dan eksploitasi lingkungan. “Anak muda perlu memberi solusi alternatif, salah satunya lewat ecosociopreneurship,” ujarnya.

Baca juga : LAN dan J.CLAIR Perkuat Kolaborasi Daerah Hadapi Krisis Iklim Global

Sementara itu, Dewi Candraningrum menekankan pentingnya menempatkan tradisi lisan bukan sebagai folklor semata, tetapi sebagai sains. Ia menambahkan, kajian yang berlangsung di wilayah calon tapak tambang ini bisa diperluas hingga membedah rantai pasok politik global.

“Kita bisa memulihkan otoritas pengetahuan lokal dan melakukan dekolonialisasi pengetahuan,” tegasnya.

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni mengapresiasi kegiatan ini. “Sebagai orang beriman, perlu melawan segala bentuk fasad—kerusakan yang merusak kehidupan,” katanya.

Ia berharap gerakan serupa dapat mengubah cara pandang publik dan membawa kemaslahatan.

Baca juga : Pertamina NRE Perkuat Transisi Energi Lewat Efisiensi Dan Optimasi Aset

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan menyebut, ecofeminisme sebagai pendekatan kuat bila diterapkan dengan benar. “Ecofeminisme adalah alat untuk mencapai keadilan iklim, ruang untuk membedah pengalaman perempuan,” ujarnya.

Pendekatan ini, lanjutnya, membuka ruang dialog antarberagam kalangan dan mendorong empati terhadap alam.

Tentang Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah

Program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) mendorong kepemimpinan pemuda lintas iman dalam memperjuangkan keadilan iklim melalui perspektif ecofeminisme. Program ini menggunakan pendekatan eco-literacy, eco-sociopreneurship, serta advokasi dan kampanye.

Didukung Ford Foundation dan Kementerian Dalam Negeri, program ini dilaksanakan di delapan wilayah: Pontianak, Halmahera Selatan, Surakarta, Banyuwangi, Gowa, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

READ  Dua Tunggal Putra Indonesia Gugur di Babak Pertama


Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News


Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram “Rakyat Merdeka News Update”, caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.





Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *