RM.id Rakyat Merdeka – Mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abas, menyatakan cintanya pada Indonesia. Hal ini ia sampaikan untuk menyikapi gejolak sosial politik dan keamanan yang tengah tidak kondusif selama ini di beberapa daerah.
“Saya lahir di Singapura, umur 8 tahun pindah ke Malaysia, umur 15 berhenti sekolah, umur 16 bertemu Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, lalu terekrut. Setelah menyaksikan sendiri berbagai konflik di berbagai wilayah dan negara, saya justru menyatakan, Aaya cinta Indonesia,” kata Nasir Abas di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (30/8/2025).
Kemudian, dia juga menegaskan bahwa cinta tanah air merupakan bagian dari ajaran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sehingga ia meyakini bahwa mencintai Indonesia merupakan bentuk pelaksanaan sunnah.
“Saya hanya ingin menegaskan bahwa cinta tanah air adalah ajaran yang dicontohkan Rasulullah,” ujarnya.
“Ketika beliau harus berhijrah, berkali-kali Rasul menoleh ke belakang, menatap Makkah dengan berat hati. Betapa beliau mencintai tanah kelahirannya, meski terpaksa meninggalkannya demi perintah Allah,” sambungnya.
Namun ada yang perlu digarisnawahi, yakni cinta tanah air tidak serta merta absolut tidak berbuat apa pun. Akan tetapi ikut membantu memperbaiki segala hal yang berkaitan dengan kekurangan yang ada pada bangsa dan negara.
Baca juga : Prabowo Ingin Besarkan Koperasi Rakyat, Budi Arie Siap Jalankan Mandat
“Mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru cinta sejati adalah tetap bersama ketika ada kekurangan, lalu berusaha memperbaikinya. Inilah bentuk cinta tanah air yang sejalan dengan iman; tidak meninggalkan, tapi memperbaiki,” tutur Nasir Abas.
Hal senada juga disampaikan oleh mantan amir Jamaah Islamiyah (JI) Ustadz Para Wijayanto. Ia juga menegaskan bahwa salah satu implementasi cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah dengan selalu menebarkan kebaikan, bukan merawat kebencian dan menebar caci maki.
Apalagi sampai memicu kerusakan dan ketakutan di tengah-tengah masyarakat.
“Cara mencintai NKRI bukan dengan mengingkari atau mencaci, melainkan dengan terus berdakwah, mengajak kepada kebaikan, dan berkontribusi dalam perbaikan,” kata Ustadz Para Wijayanto.
Jika pola dakwah kebaikan dan menyejukkan untuk niat memberikan kontribusi dan kebaikan pada bangsa dan negara, ia yakin bahwa Indonesia akan menjadi negara yang lebih baik lagi, karena bangsanya semakin cinta pada negara ini.
“Dengan begitu, kecintaan kepada negeri ini terwujud dalam amal nyata, meski banyak kekurangan yang masih ada,” pungkasnya.
Baca juga : Dubes China Wang Lutong
Wujudkan Indonesia Hijau Lewat Electric Vehicle
Dalam kesempatan yang sama, Kasatgaswil Sumatera Utara, Kombes Pol Didik Novi Rahmanto, merasa senang dengan acara dialog kebangsaan yang dihadiri para eks tokoh dan anggota Jamaah Islamiyah tersebut.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperkuat semangat rekonsiliasi dan persaudaraan antar sesama bangsa Indonesia.
“Sebuah kegiatan yang sangat bermakna, karena tidak hanya membicarakan masa lalu, tetapi bagaimana kita bersama-sama menyongsong masa depan,” ungkap Didik.
Dia menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan wujud nyata dari semangat rekonsiliasi, persaudaraan, dan cinta tanah air. Bahkan bisa menjadi simbol bahwa perubahan dan perbaikan selalu memungkinkan.
Apalagi dia pun merasa bahagia, para pengikut Jemaah Islamiyah mau secara sadar dan suka rela untuk kembali memeluk NKRI.
“Kita menyaksikan bahwa saudara-saudara kita yang dahulu pernah berjalan di jalan yang berbeda, kini telah kembali, bertobat, dan bertekad kuat untuk membangun bangsa bersama-sama,” ujarnya.
Baca juga : Semarak 80 Tahun RI, Anak Nagari Kobarkan Semangat Merdeka Lewat Lomba Edukatif
Dia juga mengingatkan bahwa transformasi ideologi yang terjadi di organisasi Jamaah Islamiyah adalah sebuah proses yang lebih dari sekadar meninggalkan masa lalu, tetapi juga langkah menuju masa depan yang lebih baik.
Oleh sebab itu, Kombes Pol Didik pun mengajak kepada seluruh peserta untuk memperkuat semangat kebangsaan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk menjaga Indonesia dari ancaman ideologi ekstrem, intoleran, dan yang dapat memecah belah.
Lebih lanjut, Didik juga mengatakan bahwa transformasi ideologi bukan hanya sekadar konsep, tetapi sebuah proses panjang yang melibatkan semua pihak, mulai dari aparat keamanan, pemerintah, lembaga keagamaan, akademisi, hingga masyarakat luas.
“Hanya dengan kolaborasi yang kuat, kita bisa membangun kesadaran baru tentang pentingnya ideologi yang sehat dan moderat,” tukasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram “Rakyat Merdeka News Update”, caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.