
RM.id Rakyat Merdeka – Kebangkitan ekonomi biru semakin menjadi fokus strategis Indonesia dalam menghadapi dinamika global. Dengan garis pantai yang luas dan kekayaan biota laut yang melimpah, potensi maritim nasional terus menarik perhatian pelaku usaha dari berbagai sektor.
Ditambah lagi, Indonesia sebagai negara maritim terbesar kedua di dunia berada pada posisi strategis untuk memimpin transformasi ekonomi biru global.
Namun demikian, optimalisasi peluang tersebut membutuhkan model kolaborasi baru yang menghubungkan pemerintah, akademisi, dan dunia industri.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Blue Ocean Strategy Fellowship 2025 bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) menyelenggarakan forum strategis yang mempertemukan para pemimpin bisnis, regulator, serta komunitas inovator untuk merumuskan solusi dan strategi keberlanjutan laut Indonesia.
Di tahun ketiganya, Blue Ocean Strategy Fellowship menunjuk Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono sebagai Distinguished Fellow dan melibatkan perusahaan-perusahaan dari sektor perikanan, agribisnis, teknologi digital, energi, logistik, dan industri kreatif yang memiliki ketertarikan pada peluang ekonomi biru.
Setelah menggelar Kuliah Umum yang melibatkan ratusan mahasiswa serta pemuda lintas organisasi dan sektor, kali ini, Blue Ocean Strategy Fellowship menghadirkan forum bisnis yang dihadiri para pelaku usaha lintas sektor, bertajuk “Unlocking the Blue Economy for Sustainable Marine Ecosystem”, di Fairmont, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).
Baca juga : Ranperda KTR Diprotes, Dunia Usaha Peringatkan Dampak Ekonomi Serius
Adapun forum ini merupakan inisiatif bersama Sampoerna University, School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia, dan Blue Ocean Academy yang telah memasuki tahun ketiganya.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa keberlanjutan ekosistem laut membutuhkan komitmen nyata dari para pelaku usaha.
KKP, kata dia mengusung lima kebijakan ekonomi biru yang diterapkan di Indonesia, yaitu memperluas kawasan konservasi laut, menerapkan penangkapan ikan terukur berbasis kuota, mengembangkan perikanan budidaya yang berkelanjutan, mengawasi dan mengelola wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta melakukan penanganan sampah plastik di laut.
“Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan pembangunan kelautan dan perikanan yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan,” jelas Menteri Trenggono, Jumat (28/11/2025).
Diingatkan, membangun ekonomi biru bukan sekadar konsep pembangunan, tetapi komitmen moral untuk menjaga keberlanjutan laut bagi generasi mendatang.
Ditegaskan, masih banyak tantangan, dari mulai micro financing, manajemen masyarakat setempat, dan masih banyak tantangan lainnya.
Baca juga : Seaside Market Di Mawatu Dukung Pelaku Usaha Lokal & Ekonomi Kreatif Labuan Bajo
“Bersama dengan pemerintah, dunia usaha memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi sektor maritim berjalan beriringan dengan konservasi,” lanjutnya.
Menteri Trenggono menambahkan, apa yang kita lakukan di Indonesia dapat menjadi model yang direplikasi di berbagai belahan dunia. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor privat harus diperkuat melalui inovasi teknologi, riset, serta praktik bisnis yang bertanggung jawab.
Rektor Sampoerna University, Dr. Wahdi Yudhi menegaskan bahwa penguatan fondasi ilmiah dan percepatan inovasi sangat penting bagi keberlanjutan dan daya saing industri maritim.
Tema “Unlocking the Blue Economy for Sustainable Marine Ecosystems in Indonesia” mencerminkan kebutuhan mendesak untuk melampaui pendekatan regulasi tradisional, yang selama ini sering kali belum mampu menangani tantangan kronis seperti praktik penangkapan ikan ilegal (IUU fishing) dan menurunnya stok ikan.
“Kedua isu tersebut tidak hanya mengancam keberlanjutan lingkungan, tetapi juga stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan Indonesia,” ucap Rektor Yudhi.
Yudhi menyebut, Blue Ocean Strategy hadir sebagai pendekatan inovatif berbasis nilai, dirancang untuk mengintegrasikan kemakmuran ekonomi dengan pelestarian ekosistem, sekaligus membangun komunitas pesisir yang tangguh dan siap menghadapi masa depan, termasuk di dalamnya masa depan yang melibatkan para pemimpin muda dari dunia akademisi dan lainnya.
Baca juga : Kolaborasi Strategis Peruri Dan BPS Dorong Penguatan Data Nasional
Blue Ocean Strategy Fellowship 2025 mendorong dunia usaha untuk terlibat secara lebih aktif dalam penyusunan kebijakan ekonomi biru. Melalui sesi diskusi, forum bisnis, dan presentasi riset terpilih, para pelaku usaha memperoleh wawasan mengenai regulasi, peluang pasar, dan tren teknologi yang relevan untuk memperkuat inovasi di sektor kelautan. Program Director Blue Ocean Strategy Fellowship, Indra Dwi Prasetyo, menegaskan pentingnya sinergi antara pembuat kebijakan dan sektor industri.
“Blue Ocean Strategy Fellowship ingin menjadi ruang strategis yang menyatukan pemuda, pengambil kebijakan, dan pelaku usaha dalam membangun solusi inovatif untuk masa depan laut Indonesia,” ujar Indra.
Satu hal yang menjadi pembeda, lanjut dia, Blue Ocean Strategy Fellowship bukan hanya forum dialog yang istilahnya seremonial belaka lalu hilang. Sebaliknya, menjadi jembatan antara regulator dan dunia usaha. Melalui forum ini dan inisiatif lainnya.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi sektor privat dapat terintegrasi ke dalam arah kebijakan nasional,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram “Rakyat Merdeka News Update”, caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.












