
Jakarta, propertyandthecity.com — Jakarta menempati posisi ke-20 dunia dalam indeks biaya konstruksi pusat data (data centre) berdasarkan laporan Turner & Townsend Data Centre Construction Cost Index 2025. Dengan rata-rata biaya sebesar Rp187.207 per watt, Indonesia masih lebih kompetitif dibandingkan Singapura (Rp257.681) dan Tokyo (Rp253.005), menjadikannya pasar strategis untuk ekspansi data centre di Asia Tenggara.
Namun, peningkatan permintaan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong tekanan besar pada biaya operasional dan kesiapan infrastruktur. Pergeseran menuju arsitektur komputasi berdensitas tinggi, kebutuhan liquid cooling, serta sambungan listrik tegangan tinggi membuat biaya operasional dan desain di Indonesia 2–3 kali lebih tinggi dibanding data centre tradisional.
“Indonesia tetap menjadi pasar kunci dengan pertumbuhan kuat dan sumber daya melimpah, namun tekanan permintaan AI terhadap infrastruktur listrik dan pendinginan semakin besar,” kata Sumit Mukherjee, Managing Director Real Estate Asia Turner & Townsend, dalam siaran persnya yang diterima redkasi, (10/11/2025).
Tantangan Energi & Infrastruktur
Meski pasokan listrik nasional dianggap memadai, tantangan terbesar datang dari transmisi listrik tegangan tinggi. Hampir 48% responden global menyebut ketersediaan daya menjadi penghambat utama pembangunan pusat data. Waktu tunggu penyambungan listrik dinilai semakin panjang seiring lonjakan permintaan dari sektor AI, industri digital, hingga ritel online.
“Ketersediaan listrik tetap menjadi hambatan kritis,” ujar Paul Barry, Data Centres Sector Lead North America Turner & Townsend. “Persaingan untuk jaringan energi semakin ketat, dan operator perlu mempertimbangkan solusi desain off-grid.”
Tekanan Rantai Pasok & Teknologi Pendingin AI
Sebanyak 83% ahli industri menilai rantai pasok lokal belum siap mendukung teknologi pendinginan berkapasitas tinggi dan komponen khusus untuk data centre berbasis AI. Indonesia memiliki keunggulan dalam pasokan air untuk mendukung teknologi liquid cooling, namun ketergantungan pada suplai komponen global masih besar.
Keterbatasan kontraktor internasional Grade A akibat beban kerja global mendorong developer data centre di Indonesia mulai beralih ke penyedia regional untuk efisiensi biaya dan percepatan proyek.
Data centre construction cost index (2025)
| Kota | 2025 DCCI (US$/Watt) | Peringkat 2025 | Perubahan Peringkat (2024-2025) |
| Tokyo | 15.15 | 1 | 0 |
| Singapore | 14.53 | 2 | 0 |
| Zurich | 14.24 | 3 | 0 |
| Osaka | 14.12 | 4 | -4 |
| Silicon Valley | 13.31 | 5 | -1 |
| New Jersey | 12.90 | 6 | -1 |
| Oslo | 12.41 | 7 | 2 |
| Auckland | 12.30 | 8 | -2 |
| Stockholm | 12.29 | 9 | 2 |
| Helsinki | 12.29 | 10 | -2 |
| Kuala Lumpur | 11.37 | 17 | 4 |
| Jakarta | 11.21 | 20 | -6 |
| Mumbai | 6.64 | 51 | -2 |
| Shanghai | 6.12 | 52 | -2 |
(*)
Artikel ini Disadur Dari Berita : https://propertyandthecity.com/biaya-konstruksi-data-centre-jakarta-tertinggi-ke-20-global-ai-dorong-tekanan-infrastruktur/






